ZAMAN sekarang, kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Sayangnya kebutuhan yang semakin meningkat tidak dibarengi dengan peningkatan mutu atau kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kesejahteraan. Akibatnya, banyak masyarakat yang harus mengecap gelar tuna wisma atau pengangguran. Belum lagi soal pemerataan pendidikan. Masih ada saja daerah di kawasan daerah tertinggal yang penduduknya belum sepenuhnya mengeyam pendidikan dengan baik dan benar.

Selain itu, terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penyebab utama meningkatnya angka pengangguran. Menurut data yang ada, hingga Februari 2008 angka pengangguran di Indonesia mencapai 9,39 juta. Salah satu penyebabnya, diantaranya menyangkut kualitas pendidikan yang ada di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Orientasi PTN dan PTS yang awalnya keningkatkan kecerdasan bangsa, mulai bergeser kepada bisnis oriented. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi, belum siap pakai.

Sungguh ironis, negara yang memiliiki begitu banyak Sumber Daya Alam (SDA) masih belum mampu menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Akibat kesalahan struktural negara dalam memanage negeri ini, menjadikan masyarakat semakin panik, terutama dalam menghidupi kebutuhan keluarganya. Berbagai macam cara dilakukan demi sesuap nasi.

Misalnya, perdagangan orang (PO) kini menjadi pekerjaan yang dilirik sebagian masyarakat untuk dapat memperpanjang umur. Di Indonesia masalah ini menjadi momok yang belum juga dapat terselesaikan, sekalipun undang-undang mengenai perdagangan orang telah dikeluarkan. Faktanya, berbagai macam kasus masih saja mencuat ke permukaan, karena undang-undang tak memberikan efek jera bagi pelakunya.

Nunukan sebagai daerah perbatasan antara Indonesia-Malayasia, menjadikan daerah ini sebagai saksi bisu terjadinya perdagangan manusia. Masalah yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sudah tidak dapat ditolerir . Mengapa? Manusia memiliki anugerah paling terbesar yang diberikan Sang Maha Pencipta. Harkat dan martabat. Harkat dan martabat masing-masing manusia harus dijaga dan dihormati, sehingga anugerah itu tak tercabut dari akarnya.

Fakta atau realitas sosial yang terjadi di Nunukan, menjadi beban berat bagi pemerintah daerah. Segala upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan, seperti lahirnya peraturan daerah untuk menanggulangi trafficking, tersedianya dana untuk penganggulangan korban perdangan orang dan masih banyak lagi upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi terjadinya kasus semacam itu.

Selain pemerintah daerah Kabupaten Nunukan, salah satu lembaga Swadaya Masyarakat yang peduli terhadap masalah perdagangan orang adalah LSM HIPERPRO (Himpunan Perempuan Produktif). Sebagai bentuk kepedulianya, LSM ini memiliki tiga agenda utama dalam menangani masalah perdagangan orang yaitu pencegahan, penanggulangan korban dan reintegrasi korban.

Bentuk pencegahan yang dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi-sosialisasi seperti penyebaran lifleat, penyebaran informasi via radio, talk show, penyuluhan langsung ke organisasi-organisasi wanita dan monitoring kasus.

Lembaga Swadaya Masyarakat bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Nunukan dan organisasi internasional ICMC juga melakukan penempatan sementara kepada korban perdagangan orang, sebelum mereka dipulangkan ke daerah asal dan merujuk ke RS bila Si korban membutuhkan pengobatan. Itu adalah sebagaian bentuk penanggulangan HIPERPRO terhadap para korban.

Siapa saja yang menjadi korban? "Kejahatan perdagangan orang di Kabupaten Nunukan, sampai saat ini tidak ditemukan masyarakat setempat yang terindikasi trafficking. Namun trafficking yang terjadi pada sebagian besar masyarakat pendatang berstatus TKI atau buruh migrant yang datang dari luar pulau Nunukan ke Malaysia,” ujar Ny Suarni SH, Ketua LSM HIPERPRO Kabupaten Nunukan. (mufidah)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN Sabtu, 28 November 2009 2 komentar


USAI sudah pelatihan jurnalistik yang digelar PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-Gramedia (KG), selama tiga hari di Kota Tarakan, mulai Selasa (24/11) hingga Kamis (27/11) 2009. Acara ini diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan.

"INI luar biasa sekali. Hanya dalam waktu tiga hari diajari menulis, ternyata teman-teman peserta pelatihan jurnalistik, hasil liputan maupun tulisannya tak kalah dengan wartawan yang sudah bekerja bertahun-tahun. Struktur kalimat, logika penulisannya, tata bahasanya, semuanya okey. Saya yakin, lima sampai 10 tahun mendatang kalian akan bisa menjadi penulis-penulis handal yang berasal dari Tarakan dan Nunukan," kata Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi, di hadapan para peserta.

Mufidah, seorang peserta dari SMAN1 Nunukan, sempat terharu karena ia yang tadinya mengaku malas membaca dan menulis, kedepan berjanji akan lebih rajin lagi setelah mendapatkan pelatihan. "Manfaatnya banyak sekali. Hanya dalam waktu tiga hari, saya mendapatkan berbagai macam ilmu, mulai dari migas hingga jurnalistik. Ilmu-ilmu ini tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Ini sangat berharga sekali bagi saya. Karena itu kedepan, saya berharap PT Medco E&P Indonesia dan Kompas Gramedia, menggelar acara yang sama di Nunukan," tuturnya.

Lead of Public Affairs & Security PT Medco E&P Indonesia , Arfiandy Djafaar, merasa bersyukur dan bergembira karena pelatihan jurnalistik kali ini benar-benar berbobot dan bermanfaat buat para pelajar. "Mendengar cerita dari Pak Bechi (Pemred Tribun Kaltim) dan pengakuan Mufidah, saya merasa bersyukur dan bergembira karena target yang kita tentukan hampir 99 persen tercapai. Dengan demikian adik-adik kini sudah bisa memahami apa arti dunia migas buat pemerintahan daerah. Selain itu, palling tidak ilmu yang adik-adik peroleh bisa dibagi-bagikan kepada teman-teman lainnya yang ada di Tarakan dan Nunukan," ungkapnya.

Pada hari terakhir, para peserta yang jumlahnya mencapai 60 orang dan berasal dari SMAN 1, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2, SMA Hang Tuah, SMA Muhammadiyah, SMA Katolik Don Bosco, SMK Panguntaka, SMA Mulawarman, SMA Kristen Tarakan, SMAN 1 Nunukan, SMAN 1 Nunukan Selatan, SMKN 1 Nunukan, SMKN 1 Tarakan dan Madarsah Aliyah Negeri, dibagi menjadi 10 kelompok.

Mereka mendapat tugas meliput berita dengan berbagai macam topik. Diantaranya, membedah prestasi di SMKN2 Tarakan, membuat profil atau sosok guru, menulis feature tentang penjaga sekolah, membedah kantin kejujuran, mengintip bengkel SMKN2 Tarakan, mengamati kantin sekolah, membedah kegiatan esktrakulikuler, mengintip suasana di perpustakaan sekolah, mengamati kondisi bangku-bangku di ruang kelas dan lain-lain.

Sebelum mereka ke lapangan, para peserta mendapat pengarahan dari Achmad Subechi, berikut angle liputan serta materi wawancara. Semua tulisan harus dilengkapi dengan foto. "Bagaimana kalau enggak punya tustel Pak?" "Bisa pakai handphone berkamera," tutur Achmad Subechi.
Selepas dari lapangan, mereka masuk ke ruangan komputer SMKN 2 Tarakan.

Di ruangan itu ada sekitar 30 komputer yang telah disediakan. Hasil penulisan mereka lalu dievaluasi oleh Achmad Subechi. Selain itu, hasil karya mereka diupload ke www.pelajartarakan-nunukan.blogspot.com. "Ini adalah blog kalian yang sengaja kami bikinkan. Semua peserta mendapat pasword dan silakan mengirimkan semua tulisannya ke blog itu. Dengan demikian, kalian mempunyai wahana baru untuk berkomunikasi antara pelajar Tarakan dan Nunukan. Paling penting lagi, dengan menulis kalian akan menjadi cerdas, intelektualnya bertambah karena harus rajin membaca dan karya kalian akan bermanfaat untuk manusia lain," pesan Achmad Subechi.

Sebelum acara berakhir, Danny Andriano Oroh, salah satu peserta dari Tarakan, sempat mengajukan pertanyaan kepada Achmad Subechi mengenai kualitas dunia pendidikan di negeri ini. "Jadi yang paling penting adalah pemerataan pendidikan ya Pak...?" tanyanya.
Selain mendapatkan pelajaran jurnalistik dan pengetahuan tentang migas, mereka juga dapat suntikan dari Elie Mulyadi, motivator anak-anak. Elie memberikan inspirasi dan motivasi melalui cerita mengenai kehidupan, persahabatan dan cita-cita. Ia juga menyinggung apa benefit bagi seorang penulis.

"Karier di masa depan yang bisa digeluti oleh anak-anak adalah ketrampilan menulis. Dengan menulis kalian bisa mendapatkan kepuasan berkarya sekaligus penghasilan dan popularitas. Kharakteristik yang harus dimiliki seorang penulis adalah gigih, berani ditolak, kritis atau punya rasa ingin tahu yang besar dan jujur alias tidak plagiat," tutur wanita yang telah melahirkan karya-karyanya berupa buku-buku psikologi populer. (bec)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 1 komentar


KAMIS, 26 November 2009. Disela-sela acara pelatihan jurnalistik yang diadakan PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-GraSMKN 2 Tarakan.

SEKILAS dari kejauhan, bangunan kantin SMKN 2 Tarakan tampak seperti ruangan biasa. Tidak ada ciri-ciri khusus yang menandakan bahwa bangunan itu adalah sebuah tempat mengisi perut. Ketika kali pertama, memasuki ruangan itu muncul kesan, kantin ini tidak terlalu terawat.

Kaca-kaca yang terdapat di ruangan kantin tidak terawat dengan baik. Buktinya, ada yang berdebu, bahkan ada pula yang hilang. Cat dinding ruangan juga mulai kusam. Celakanya lagi, bekas-bekas kaki dan makanan-makanan yang tumpah, seakan membentumedia (KG), kami mendapat tugas mengintip kantin k sebuah gugusan pulau.

Plafon-plafonnya juga sudah mulai lepas akibat tetesan-tetesan air dari cela-cela atap yang bocor. Di ruangan kantin terdapat tiga warna kursi. Setiap pemilik kantin memiliki warna kursi yang berbeda-beda. Seperti kantin sebelah kanan dari pintu masuk, kursinya berwarna biru, kantin bagian tengah kursinya warna merah, dan kantin sebelah kiri dari pintu masuk, kursinya berwarna hijau.

Dari sekian kursi yang ada, ada beberapa kursi yang terlihat sudah tidak layak pakai. Belum lagi kipas angin berjumlah tiga, terkesan jarang sekali dirawat atau dibersihkan. Debu-debu tebal melekat pada baling-baling kipas.

Belum lagi kalau bicara soal tempat sampah. Jumlah kotak sampahnya kurang mencukupi, sehingga pengunjung yang kali pertama datang ke kantin itu sedikit kebingungan mencari tempat sampah.

Awalnya kantin SMKN 2 Tarakan, terletak di samping ruang koperasi. Berdiri dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Kemudian karena adanya pengembangan sekolah, kantin tersebut dipindahkan di belakang gedung perpustakaan dan multimedia. Bangunan lama kantin saat ini dijadikan ruangan TI. Bangunan kantin mulai dioperasikan sejak tahun 2007.

Bangunan ini dibangun oleh kontraktor dan sampai saat ini pihak kontraktor tersebut juga ikut mengelolah kantin tersebut. Kantin ini ditempati tiga pedagang makanan dan minuman, salah satunya Ny Suharto. Ia sudah berdagang makanan di kantin tersebut sejak tahun 2003. Dulu, ketika masih berjualan di kantin yang lama, Ny Suharto tidak hanya melayani para siswa, tetapi juga melayani 115 orang guru SMKN 2 Tarakan.

“Biaya kontrak di kantin ini Rp 12 juta per tahun,” kata Ny Suharto. Menu yang di sediakan di kantinnya berupa soto, nasi kuning, mie, pop ice, extrajos, teh sisri, dan gorengan. Harga menu tertinggi Rp 6.000 dan terendah Rp 500. "Keuntung kotor yang kami dapat ya tergantung harinya. Kadang pada hari Senin kami dapat Rp 1.400.000. Semmentara pada hari lainnya biasanya dapat keuntungan kurang lebih Rp 500 ribu sampau Rp 1,2 juta," tuturnya.

Wanita itu berharap, agar fasilitas dan kebersihan kantin lebih diperhatikan. Seperti dinding. Ia menginginkan agar dinding kantin dicat setiap tiga bulan sekali dan ruangannya kantin diperbesar.

Salah satu siswi juga memberikan pendapat yang sama. Ia ingin kebersihan kantin lebih tingkatkan dan juga ruangan kantin diperbanyak. Dari menu-menu yang disediakan, menu yang lebih disukai salah Arsya, siswi SMKN 2 Tarakan jurusan kayu adalah adalah mie. Selain harganya murah, mie juga menjadi makanan favoritnya.

Kelompok 6

Ketua: Oki Setiawan
Anggota:
Frisca Della
Lindu Asmoro
Sandra Dewi Suherman
Uji Astika
Andi Ira Fazira

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 2 komentar


Aku baru saja menerima untuk kesekian kalinya sebuah kiriman kisah tentang besarnya kasih seorang ibu kepada anak-anaknya, aku termenung..Ya, aku tau ibunda sangat mengasihiku dengan semua pengorbanan yang tidak terbantahkan..

Tapi bagaimana dengan ayahku ? Beberapa hari terakhir ini aku merindukannya teramat sangat, dalam kerinduanku seringkali aku mengembalikan ingatanku pada 2, 5 bahkan 12 tahun yang lalu..

Aku masih ingat dengan baik bagaimana ayah menemani aku bermain di Kebun Binatang Surabaya, membelikan ku sebuah bola balon berlapis plastik warna-warni lalu memainkannya bersamaan. Sebelum pulang, hampir tidak pernah lupa ia mengabadikan ku dalam kamera sakunya. Itu 12 tahun yang lalu..

Aku juga kangen melihatnya marah dan menakut-nakutiku dengan sabuk kulitnya setiap kali aku enggan menyelesaikan tugas-tugas sekolahku.. Ah, aku tau ayah hanya menakut-nakutiku karena nyatanya tidak pernah sekalipun sabuk kulit itu mengenai tubuhku..

Satu lagi kerinduan yang menari-nari dalam ingatanku, bagaimana cara ayah memanjakanku dan menuntaskan ngambekku *smile*.. Dari kecil aku memang ngambekan, ga heran kalau ayah jadi hapal betul cara menyelesaikan ngambekku. Hmm.. Aku masih ingat dengan baik caranya yang selalu menenangkan dan membuat ngambekku sembuh. tapi sekarang aku orangnya sabaran loh.. hhehehe... Sebuah sudut di pesisir pantai Amal mengembalikan ingatanku betapa ayah selalu berusaha memenuhi keinginanku, setidak penting apapun itu dimatanya. Kebahagiaanku dan senyumku tampaknya lebih penting dari apapun juga baginya, bahkan jika harus menguras seluruh isi dompetnya demi sebuah jam tangan yang sebenarnya tidak terlalu harus aku beli apalagi dengan alasan menambah koleksi. Ah aku memang bandel hehe.. Beruntung sekali aku memiliki ayah sesabar ayahku..

Itu hanya sekelumit saja, ya sekelumit kenangan manis yang mampu kubagi. Sesungguhnya ada ribuan bahkan jutaan kisah lagi yang ingin aku tulis untuk menuntaskan rinduku, tapi aku tau rinduku tidak akan pernah tuntas karena aku tidak akan pernah lagi menjadi putra kecil yang dimanjakannya.. Aku putra dewasanya yang walaupun masih tetap manja harus menjalani hari-hari tanpa kehadirannya disisiku.. dan aku tau, sangat tau bahwa dalam doa-doanya ayah tidak akan pernah lupa menyebut namaku.. Aku tau dalam keterbatasan ruang dan waktu yang memisahkan kami, ayah selalu memintakan yang terbaik bagiku.. Dan aku juga tau, dalam keheningannya ayah juga pasti merindukan aku...

I ♥ u Dad, miss u very much...(rifQ)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN Jumat, 27 November 2009 0 komentar


Wajah-wajah asing mulai bermunculan dari gerbang depan menuju ruangan multimedia tempat pelatihan jurnalistik berlangsung. Tiap sekolah yang diundang dari Tarakan dan Nunukan mengirimkan masing-masing empat siswa terbaiknya.

Walau tidak saling mengenal, keinginan yang tinggi dalam bidang jurnalistik dapat mempersatukan kami semua.

Acara ini berlangsung selama tiga hari, dimana hari pertama dan kedua merupakan hari pemberian materi jurnalistik dan hari ketiga kami langsung terjun ke lapangan untuk praktek. Awalnya kami saling jaim ( jaga image ) namun akhirnya muncul juga sifat dan karakternya yang mencairkan suasana yang begitu dingin saat permulaan. Sebut saja Answar, yang kami juluki sebagai "Pa'le sampah", adayang kami juluki "Ronaldo" dan ada juga Helena yang dijuluki " Ibu Presiden ". semuanya bermula di sesi motivasi yang disampaikan oleh Kak Elie, seorang penulis yang cukup ternama di Indonesia. 

 Dari saat itulah kekompakan kami ber-8 ( yang difoto ) bermula, awalnya kami hanya bercanda kecil-kecilan namun akhirnya dapat membuat satu ruangan geger, termasuk para pembicara. Sebut saja Dani siswa SMK 1 Tarakan kamera digitalnya sampai-sampai disita oleh Kak Elie saat kami bernarsis ria dibelakang. 

Tidak hanya ilmu yang didapat dalam pelatihan ini, namun tentu saja teman dan bahkan sahabat baru yang selama ini kami tidak kenal. Oh iya, kami belum mengenalkan diri kami sendiri, dari sebelah kiri atas ada Fenny Nelson (SMAK Tunas Kasih), Destri Mariana (SMAK Tunas Kasih), Samuel (SMAK Tunas Kasih), Answar (SMAN 2 Tarakan), ditengah ada Jamaaludin (SMAN 2 Tarakan), Dari kiri Wesley (SMAK Tunas Kasih), Orlando (SMA Don Bosco Tarakan), dan terakhir Frisca Della (SMAN 2 Tarakan).

Mungkin sekian laporan jurnalistik sederhana kami, kami harap pelatihan ini dapat berlanjut dan tetap sukses. And jangan lupa.. Stay PD ya...

(By : Wesley)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 0 komentar



PAGI itu butiran hujan membasahi seantero Tarakan. Suasana gerimis mengiringi langkah anggota kelompok 5 pelatihan jurnalistik yang diadakan PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-Gramedia (KG). Mereka hendak melakukan wawancara dengan para pelajar di bengkel Belmo.

Tepat pukul 09.00 Wita, kami memulai perjalan dari bengkel otomotif. Di dalam bengkel yang besar itu ada 245 siswa dari tiga jurusan. Mereka terlihat sangat semangat dalam membongkar mesin-mesin. Menurut salah satu siswa X Ma 1, mereka masuk bengkel dua minggu sekali. Untuk siswa kelas X lebih memahami teori. Walau begitu mereka tetap melakukan praktek. Sedangkan kelas XI, mereka diajari memahami praktek merawat, memperbaiki dan memeriksa alat mesin mobil dan motor.

Terdapat tiga bidang keahlian di dalam dunia otomotif, listrik, charsis (body), dan engine. Dalam pelajaran listrik lebih ditekankan dengan mempelajari terangnya lampu, cara menyambung lampu dari aki sehingga bisa nyala (lampu mobil/motor, letting mobil dan motor).

Pelajaran tentang bodi lebih mengarah kepada kelas XI tentang bongkar pasang body mobil dan motor. Engine lebih mengarah kepada kelas XII yaitu over role (bongkar habis mesin). Adapun fasilitas yang tersedia yaitu mobil, motor , komperesor, hidrolik press, donggkrak, carlift, dan power steering.

“Saya merasa senang berada dibengkel ini karena selain fasilitasnya yang lengkap, tiga kelas bergabung menjadi satu dalam satu bengkel. Walaupun dibagi menjadi beberapa bidang, di sini kami selalu saling membantu dan kerja sama adalah hal yang selalu kami jaga sehingga tidak ada yang membeda-bedakan,” tutur salah satu siswa otomotif.
****
MASIH dalam suasana hujan, siswa bimbingan Patahani sedang mengecharge baterai atau aki, membongkar pasang mesin, dan membersihkan lantai bengkel. Pada hari Senin dan Sabtu, mereka melakukan teknik motor. Kemarin, suasana di ruang tersebut agak ramai dengan kesibukan para siswa yang sedang melakukan kegiatan.

Setiap langkah kami selalu mendengarkan gemuruhnya suara mesin yang begitu keras. Dengan cahaya las yang mengejutkan dan menyilaukan mata. Setelah itu langkah kami bergerak menuju ke bengkel instalasi listrik. Kami melihat anak-anak berbaju biru.

Mereka mengambar diagram tunggal, diagram ganda, rekapitulasi daya dengan didukung berbagai macam fasilitas yang lengkap seperti mesin ragum, mesin bor listrik, gerinda, tembaga, obeng, dan tang kombinasi dan banyak lagi yang lainnya. Ternyata bengkel listrik ini tediri dari 38 siswa. Menurut salah satu siswa kelas X "Kami hanya belajar teorinya saja sehingga kami lebih menguasai materi saat praktek kelas XI nanti."

Setelah menelusuri bengkel listrik, kami menuju bengkel Teknik Pemesinan Logam. Di bengkel ini terdapat tiga bidang yaitu teknik las, dan teknik mesin. Menurut Waka Humas SMK Negeri 2 Tarakan Suharto, bengkel ini dilengkapi dengan fasilitas seperti mesin bubut, press, dan lab CNC.

Mesin CNC merupakan mesin terbaru dan tercanggih di Kalimantan Utara. Mesin ini bekerja dengan menggunakan sistem komputerisasi yang datanya bisa dikirim melalui bluethoot atau kabel sehingga dapat dikerjakan oleh mesin tersebut.

Dengan dukungan peralatan yang canggih, siswa SMKNi 2 Tarakan yang melakukan praktek di bengkel tidak lagi memerlukan tenaga yang cukup banyak. Mereka hanya menggunakan otak, dan lebih banyak belajar cara menjalankan alat-alat yang sudah ada. Masih banyak bengkel lain yang biasa disingkat Belmo yaitu bangunan, electronica, listrik, mesin dan otomotif.

Sedangkan untuk bangunan, mereka mempelajari cara membuat pondasi rumah gedung dan lainnya. Kebanyakan mereka yang melakukan kegiatan tersebut adalah siswa kelas XII. Sedangkan untuk bagian kayu, mereka lebih mengarah kepada pembuatan meja dan kursi. Perjalanan ini sungguh indah dan kami namakan jalan-jalan ke bengkel Belmo...

Nama Kelompok 5
1. Wahyuli R
2. Helena W
3. Samuel J
4. Jumiati
5. Kiki F
6. Gentrudis

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 0 komentar



TARAKAN-Baru-baru ini Pemerintah Kota Tarakan bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan Program Kantin Kejujuran di SD, SMP, SMA/SMK dan sederajat. Salah satunya di SMK Negeri 2 Tarakan.

Irawan, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) mengatakan, "Kantin Kejujuran ini dibuat untuk melatih integritas siswa-siswi di SMK Negeri 2 Tarakan, dan untuk memutus atau menghilangkan generasi korup.”

Biaya yang diberikan dari ketiga instansi pemerintah tersebut sebesar Rp 3.000.000. Dana sebesar itu digunakan untuk membeli berbagai macam makanan dan minuman yang bermanfaat seperti air dalam kemasan, dan berbagai macam makanan ringan. Kantin Kejujuran ini dikelola sepenuhnya oleh OSIS dan dibantu bagian Kesiswaan serta guru BK. Keuntungan yang diperoleh dari kantin kejujuran akan digunakan untuk memperbesar kantin.

Nurliana selaku Wakil Ketua Osis SMKN 2 Tarakan menuturkan, "Keuntungan yang kami peroleh berkisar antara Rp 10.000-Rp.17.000/minggu. Keuntungan ini kami gunakan untuk menutupi kerugian untuk membeli produk dan memperbesar Kantin Kejujuran," tuturnya.

Untuk menguji integritas para pelajar, ia mengusulkan di lokasi Kantin Kejujuran tak perlu ada CCTV. “Sebaiknya di Kantin Kejujuran tidak dipasang kamera pengawas, karena siswa akan merasa diawasi sehingga membuat siswa merasa tidak nyaman saat berbelanja,” ujar Cassidy Pablo siswa kelas dua jurusan Teknik Informatika (TI). Beberapa murid lainnya seperti Janwar, Milladin dan Tuhaiwin juga mengatakan hal yang sama. Mereka berharap supaya barang yang dijual dilengkapi alat-alat tulis dan frozen untuk minuman dingin.


Kelompok 4
Ketua : Dani A.O
Sekretaris : Maria
Anggota :
Answar
Sumiyati
Destri
Vivi

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 1 komentar


SEKOLAH Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Tarakan, dikenal sebagai sekolah terluas di Kota Tarakan. Arealnya mencapai sekitar lima hektar dan diatasnya terdapat sejumlah bangunan yang digunakan untuk menunjang kegiatan belajar para siswa.

SAAT ini jumlah siswa di SMKN 2 mencapai 1.170 pelajar. Program keahlian yang dapat diambil, antara lain departemen bangunan yang diaplikasikan menjadi tekhnik gambar bangunan, tekhnik konstruksi kayu, dan tekhnik kontruksi batu beton. Sedangkan departemen mesin diaplikasikan menjadi tiga jurusan, tekhnik mesin otomotif, tekhnik mesin perkakas, dan tekhnik alat berat. Ada juga departemen informatika, departemen listrik, dan departemen elektronika.

Dengan adanya beberapa fasilitas yang ada di SMKN 2 Tarakan, maka sistem pengamanan lebih diperketat. Saat ini pihak pengelola sekolah menempatkan tiga penjaga atau petugas keamanan yang dibagi dalam tiga shift, pagi, siang, dan malam. Salah seorang penjaganya bernama Tri Supardi. Ditemui wartawan pelatihan jurnalistik, 26 November 2009, di lingkungan SMKN 2 Tarakan, lelaki itu berdomisili di Jalan Purnabakti Gang Melati Kp. 1 tepatnya di Perumahan Pabri.

Pria separuh baya ini memiliki empat orang anak. Anak sulungnya sudah berkeluarga. Dua orang anak lainnya masih dalam proses pernikahan. Sedangkan si bungsu masih duduk di bangku sekolah.
Sudah dua tahun terakhir ia mengabdi di SMKN 2 Tarakan. Berbagai macam suka dan duka pun telah dilewatinya. Di usianya yang terbilang senja, ia masih saja menjalankan tugas-tugasnya demi keamanan di lingkungan sekolah.
***
SEKILAS raut wajahnya amat menyeramkan. Dibalik itu, ternyata Tri Supardi merupakan sosok yang baik hati dan perhatian kepada siswa dan orang-orang di dekatnya. Meski ia harus dihadapkan dengan berbagai macam karakteristik siswa yang berbeda-beda. Kejadian yang pernah ia temui di SMKN 2 Tarakan, misalnya adanya kasus pencurian helm dan kehilangan handphone. Menurut pengakuannya, ada beberapa siswa yang diberhentikan karena terlibat dalam kasus tersebut. Dengan adanya kejadian itu, ia bertanggung jawab sepenuhnya dalam menjaga lingkungan di sekolahnya.

Gaji yang diperolehnya hanya Rp 600.000 dari sekolah dan dari ada insentif dari pemerintah sebesar Rp 400.000 yang ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Kalo bisa gaji saya dinaikkan.” Sebuah harapan besar Tri Supardi. Akankah?

Kelompok III

1. Marlina SMKN 2 Tarakan
2. Yuni Siswati SMKN 1 Nunukan
3. Qosdha. R SMAN 1 Nusa
4. Rezky Wahyuningsih MAN Tarakan
5. Windyka Shagara SMAN 2 Tarakan
6. Harjo Solaika SMA Muhammadiyah Tarakan

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 2 komentar

USAI sudah pelatihan jurnalistik yang digelar PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-Gramedia (KG), selama tiga hari di Kota Tarakan, mulai Selasa (24/11) hingga Kamis (27/11) 2009. Acara ini diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan.

"INI luar biasa sekali. Hanya dalam waktu tiga hari diajari menulis, ternyata teman-teman peserta pelatihan jurnalistik, hasil liputan maupun tulisannya tak kalah dengan wartawan yang sudah bekerja bertahun-tahun. Struktur kalimat, logika penulisannya, tata bahasanya, semuanya okey. Saya yakin, lima sampai 10 tahun mendatang kalian akan bisa menjadi penulis-penulis handal yang berasal dari Tarakan dan Nunukan," kata Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi, di hadapan para peserta.

Mufidah, seorang peserta dari SMAN1 Nunukan, sempat terharu karena ia yang tadinya mengaku malas membaca dan menulis, kedepan berjanji akan lebih rajin lagi setelah mendapatkan pelatihan. "Manfaatnya banyak sekali. Hanya dalam waktu tiga hari, saya mendapatkan berbagai macam ilmu, mulai dari migas hingga jurnalistik. Ilmu-ilmu ini tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Ini sangat berharga sekali bagi saya. Karena itu kedepan, saya berharap PT Medco E&P Indonesia dan Kompas Gramedia, menggelar acara yang sama di Nunukan," tuturnya.

Lead of Public Affairs & Security PT Medco E&P Indonesia , Arfiandy Djafaar, merasa bersyukur dan bergembira karena pelatihan jurnalistik kali ini benar-benar berbobot dan bermanfaat buat para pelajar. "Mendengar cerita dari Pak Bechi (Pemred Tribun Kaltim) dan pengakuan Mufidah, saya merasa bersyukur dan bergembira karena target yang kita tentukan hampir 99 persen tercapai. Dengan demikian adik-adik kini sudah bisa memahami apa arti dunia migas buat pemerintahan daerah. Selain itu, palling tidak ilmu yang adik-adik peroleh bisa dibagi-bagikan kepada teman-teman lainnya yang ada di Tarakan dan Nunukan," ungkapnya.

Pada hari terakhir, para peserta yang jumlahnya mencapai 60 orang dan berasal dari SMAN 1, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2, SMA Hang Tuah, SMA Muhammadiyah, SMA Katolik Don Bosco, SMK Panguntaka, SMA Mulawarman, SMA Kristen Tarakan, SMAN 1 Nunukan, SMAN 1 Nunukan Selatan, SMKN 1 Nunukan, SMKN 1 Tarakan dan Madarsah Aliyah Negeri, dibagi menjadi 10 kelompok.

Mereka mendapat tugas meliput berita dengan berbagai macam topik. Diantaranya, membedah prestasi di SMKN2 Tarakan, membuat profil atau sosok guru, menulis feature tentang penjaga sekolah, membedah kantin kejujuran, mengintip bengkel SMKN2 Tarakan, mengamati kantin sekolah, membedah kegiatan esktrakulikuler, mengintip suasana di perpustakaan sekolah, mengamati kondisi bangku-bangku di ruang kelas dan lain-lain.

Sebelum mereka ke lapangan, para peserta mendapat pengarahan dari Achmad Subechi, berikut angle liputan serta materi wawancara. Semua tulisan harus dilengkapi dengan foto. "Bagaimana kalau enggak punya tustel Pak?" "Bisa pakai handphone berkamera," tutur Achmad Subechi.
Selepas dari lapangan, mereka masuk ke ruangan komputer SMKN 2 Tarakan.

Di ruangan itu ada sekitar 30 komputer yang telah disediakan. Hasil penulisan mereka lalu dievaluasi oleh Achmad Subechi. Selain itu, hasil karya mereka diupload ke www.pelajartarakan-nunukan.blogspot.com. "Ini adalah blog kalian yang sengaja kami bikinkan. Semua peserta mendapat pasword dan silakan mengirimkan semua tulisannya ke blog itu. Dengan demikian, kalian mempunyai wahana baru untuk berkomunikasi antara pelajar Tarakan dan Nunukan. Paling penting lagi, dengan menulis kalian akan menjadi cerdas, intelektualnya bertambah karena harus rajin membaca dan karya kalian akan bermanfaat untuk manusia lain," pesan Achmad Subechi.

Sebelum acara berakhir, Danny Andriano Oroh, salah satu peserta dari Tarakan, sempat mengajukan pertanyaan kepada Achmad Subechi mengenai kualitas dunia pendidikan di negeri ini. "Jadi yang paling penting adalah pemerataan pendidikan ya Pak...?" tanyanya.
Selain mendapatkan pelajaran jurnalistik dan pengetahuan tentang migas, mereka juga dapat suntikan dari Elie Mulyadi, motivator anak-anak. Elie memberikan inspirasi dan motivasi melalui cerita mengenai kehidupan, persahabatan dan cita-cita. Ia juga menyinggung apa benefit bagi seorang penulis.

"Karier di masa depan yang bisa digeluti oleh anak-anak adalah ketrampilan menulis. Dengan menulis kalian bisa mendapatkan kepuasan berkarya sekaligus penghasilan dan popularitas. Kharakteristik yang harus dimiliki seorang penulis adalah gigih, berani ditolak, kritis atau punya rasa ingin tahu yang besar dan jujur alias tidak plagiat," tutur wanita yang telah melahirkan karya-karyanya berupa buku-buku psikologi populer. (bec)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 1 komentar

Subscribe here

Visitor

comment


ShoutMix chat widget

Best Momment