PAGI itu butiran hujan membasahi seantero Tarakan. Suasana gerimis mengiringi langkah anggota kelompok 5 pelatihan jurnalistik yang diadakan PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-Gramedia (KG). Mereka hendak melakukan wawancara dengan para pelajar di bengkel Belmo.

Tepat pukul 09.00 Wita, kami memulai perjalan dari bengkel otomotif. Di dalam bengkel yang besar itu ada 245 siswa dari tiga jurusan. Mereka terlihat sangat semangat dalam membongkar mesin-mesin. Menurut salah satu siswa X Ma 1, mereka masuk bengkel dua minggu sekali. Untuk siswa kelas X lebih memahami teori. Walau begitu mereka tetap melakukan praktek. Sedangkan kelas XI, mereka diajari memahami praktek merawat, memperbaiki dan memeriksa alat mesin mobil dan motor.

Terdapat tiga bidang keahlian di dalam dunia otomotif, listrik, charsis (body), dan engine. Dalam pelajaran listrik lebih ditekankan dengan mempelajari terangnya lampu, cara menyambung lampu dari aki sehingga bisa nyala (lampu mobil/motor, letting mobil dan motor).

Pelajaran tentang bodi lebih mengarah kepada kelas XI tentang bongkar pasang body mobil dan motor. Engine lebih mengarah kepada kelas XII yaitu over role (bongkar habis mesin). Adapun fasilitas yang tersedia yaitu mobil, motor , komperesor, hidrolik press, donggkrak, carlift, dan power steering.

“Saya merasa senang berada dibengkel ini karena selain fasilitasnya yang lengkap, tiga kelas bergabung menjadi satu dalam satu bengkel. Walaupun dibagi menjadi beberapa bidang, di sini kami selalu saling membantu dan kerja sama adalah hal yang selalu kami jaga sehingga tidak ada yang membeda-bedakan,” tutur salah satu siswa otomotif.
****
MASIH dalam suasana hujan, siswa bimbingan Patahani sedang mengecharge baterai atau aki, membongkar pasang mesin, dan membersihkan lantai bengkel. Pada hari Senin dan Sabtu, mereka melakukan teknik motor. Kemarin, suasana di ruang tersebut agak ramai dengan kesibukan para siswa yang sedang melakukan kegiatan.

Setiap langkah kami selalu mendengarkan gemuruhnya suara mesin yang begitu keras. Dengan cahaya las yang mengejutkan dan menyilaukan mata. Setelah itu langkah kami bergerak menuju ke bengkel instalasi listrik. Kami melihat anak-anak berbaju biru.

Mereka mengambar diagram tunggal, diagram ganda, rekapitulasi daya dengan didukung berbagai macam fasilitas yang lengkap seperti mesin ragum, mesin bor listrik, gerinda, tembaga, obeng, dan tang kombinasi dan banyak lagi yang lainnya. Ternyata bengkel listrik ini tediri dari 38 siswa. Menurut salah satu siswa kelas X "Kami hanya belajar teorinya saja sehingga kami lebih menguasai materi saat praktek kelas XI nanti."

Setelah menelusuri bengkel listrik, kami menuju bengkel Teknik Pemesinan Logam. Di bengkel ini terdapat tiga bidang yaitu teknik las, dan teknik mesin. Menurut Waka Humas SMK Negeri 2 Tarakan Suharto, bengkel ini dilengkapi dengan fasilitas seperti mesin bubut, press, dan lab CNC.

Mesin CNC merupakan mesin terbaru dan tercanggih di Kalimantan Utara. Mesin ini bekerja dengan menggunakan sistem komputerisasi yang datanya bisa dikirim melalui bluethoot atau kabel sehingga dapat dikerjakan oleh mesin tersebut.

Dengan dukungan peralatan yang canggih, siswa SMKNi 2 Tarakan yang melakukan praktek di bengkel tidak lagi memerlukan tenaga yang cukup banyak. Mereka hanya menggunakan otak, dan lebih banyak belajar cara menjalankan alat-alat yang sudah ada. Masih banyak bengkel lain yang biasa disingkat Belmo yaitu bangunan, electronica, listrik, mesin dan otomotif.

Sedangkan untuk bangunan, mereka mempelajari cara membuat pondasi rumah gedung dan lainnya. Kebanyakan mereka yang melakukan kegiatan tersebut adalah siswa kelas XII. Sedangkan untuk bagian kayu, mereka lebih mengarah kepada pembuatan meja dan kursi. Perjalanan ini sungguh indah dan kami namakan jalan-jalan ke bengkel Belmo...

Nama Kelompok 5
1. Wahyuli R
2. Helena W
3. Samuel J
4. Jumiati
5. Kiki F
6. Gentrudis

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN Jumat, 27 November 2009 0 komentar



TARAKAN-Baru-baru ini Pemerintah Kota Tarakan bekerja sama dengan Kejaksaan Tinggi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan Program Kantin Kejujuran di SD, SMP, SMA/SMK dan sederajat. Salah satunya di SMK Negeri 2 Tarakan.

Irawan, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) mengatakan, "Kantin Kejujuran ini dibuat untuk melatih integritas siswa-siswi di SMK Negeri 2 Tarakan, dan untuk memutus atau menghilangkan generasi korup.”

Biaya yang diberikan dari ketiga instansi pemerintah tersebut sebesar Rp 3.000.000. Dana sebesar itu digunakan untuk membeli berbagai macam makanan dan minuman yang bermanfaat seperti air dalam kemasan, dan berbagai macam makanan ringan. Kantin Kejujuran ini dikelola sepenuhnya oleh OSIS dan dibantu bagian Kesiswaan serta guru BK. Keuntungan yang diperoleh dari kantin kejujuran akan digunakan untuk memperbesar kantin.

Nurliana selaku Wakil Ketua Osis SMKN 2 Tarakan menuturkan, "Keuntungan yang kami peroleh berkisar antara Rp 10.000-Rp.17.000/minggu. Keuntungan ini kami gunakan untuk menutupi kerugian untuk membeli produk dan memperbesar Kantin Kejujuran," tuturnya.

Untuk menguji integritas para pelajar, ia mengusulkan di lokasi Kantin Kejujuran tak perlu ada CCTV. “Sebaiknya di Kantin Kejujuran tidak dipasang kamera pengawas, karena siswa akan merasa diawasi sehingga membuat siswa merasa tidak nyaman saat berbelanja,” ujar Cassidy Pablo siswa kelas dua jurusan Teknik Informatika (TI). Beberapa murid lainnya seperti Janwar, Milladin dan Tuhaiwin juga mengatakan hal yang sama. Mereka berharap supaya barang yang dijual dilengkapi alat-alat tulis dan frozen untuk minuman dingin.


Kelompok 4
Ketua : Dani A.O
Sekretaris : Maria
Anggota :
Answar
Sumiyati
Destri
Vivi

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 1 komentar


SEKOLAH Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Tarakan, dikenal sebagai sekolah terluas di Kota Tarakan. Arealnya mencapai sekitar lima hektar dan diatasnya terdapat sejumlah bangunan yang digunakan untuk menunjang kegiatan belajar para siswa.

SAAT ini jumlah siswa di SMKN 2 mencapai 1.170 pelajar. Program keahlian yang dapat diambil, antara lain departemen bangunan yang diaplikasikan menjadi tekhnik gambar bangunan, tekhnik konstruksi kayu, dan tekhnik kontruksi batu beton. Sedangkan departemen mesin diaplikasikan menjadi tiga jurusan, tekhnik mesin otomotif, tekhnik mesin perkakas, dan tekhnik alat berat. Ada juga departemen informatika, departemen listrik, dan departemen elektronika.

Dengan adanya beberapa fasilitas yang ada di SMKN 2 Tarakan, maka sistem pengamanan lebih diperketat. Saat ini pihak pengelola sekolah menempatkan tiga penjaga atau petugas keamanan yang dibagi dalam tiga shift, pagi, siang, dan malam. Salah seorang penjaganya bernama Tri Supardi. Ditemui wartawan pelatihan jurnalistik, 26 November 2009, di lingkungan SMKN 2 Tarakan, lelaki itu berdomisili di Jalan Purnabakti Gang Melati Kp. 1 tepatnya di Perumahan Pabri.

Pria separuh baya ini memiliki empat orang anak. Anak sulungnya sudah berkeluarga. Dua orang anak lainnya masih dalam proses pernikahan. Sedangkan si bungsu masih duduk di bangku sekolah.
Sudah dua tahun terakhir ia mengabdi di SMKN 2 Tarakan. Berbagai macam suka dan duka pun telah dilewatinya. Di usianya yang terbilang senja, ia masih saja menjalankan tugas-tugasnya demi keamanan di lingkungan sekolah.
***
SEKILAS raut wajahnya amat menyeramkan. Dibalik itu, ternyata Tri Supardi merupakan sosok yang baik hati dan perhatian kepada siswa dan orang-orang di dekatnya. Meski ia harus dihadapkan dengan berbagai macam karakteristik siswa yang berbeda-beda. Kejadian yang pernah ia temui di SMKN 2 Tarakan, misalnya adanya kasus pencurian helm dan kehilangan handphone. Menurut pengakuannya, ada beberapa siswa yang diberhentikan karena terlibat dalam kasus tersebut. Dengan adanya kejadian itu, ia bertanggung jawab sepenuhnya dalam menjaga lingkungan di sekolahnya.

Gaji yang diperolehnya hanya Rp 600.000 dari sekolah dan dari ada insentif dari pemerintah sebesar Rp 400.000 yang ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Kalo bisa gaji saya dinaikkan.” Sebuah harapan besar Tri Supardi. Akankah?

Kelompok III

1. Marlina SMKN 2 Tarakan
2. Yuni Siswati SMKN 1 Nunukan
3. Qosdha. R SMAN 1 Nusa
4. Rezky Wahyuningsih MAN Tarakan
5. Windyka Shagara SMAN 2 Tarakan
6. Harjo Solaika SMA Muhammadiyah Tarakan

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 2 komentar

USAI sudah pelatihan jurnalistik yang digelar PT Medco E&P Indonesia bekerja sama dengan Tribun Kaltim dan Kompas-Gramedia (KG), selama tiga hari di Kota Tarakan, mulai Selasa (24/11) hingga Kamis (27/11) 2009. Acara ini diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan.

"INI luar biasa sekali. Hanya dalam waktu tiga hari diajari menulis, ternyata teman-teman peserta pelatihan jurnalistik, hasil liputan maupun tulisannya tak kalah dengan wartawan yang sudah bekerja bertahun-tahun. Struktur kalimat, logika penulisannya, tata bahasanya, semuanya okey. Saya yakin, lima sampai 10 tahun mendatang kalian akan bisa menjadi penulis-penulis handal yang berasal dari Tarakan dan Nunukan," kata Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi, di hadapan para peserta.

Mufidah, seorang peserta dari SMAN1 Nunukan, sempat terharu karena ia yang tadinya mengaku malas membaca dan menulis, kedepan berjanji akan lebih rajin lagi setelah mendapatkan pelatihan. "Manfaatnya banyak sekali. Hanya dalam waktu tiga hari, saya mendapatkan berbagai macam ilmu, mulai dari migas hingga jurnalistik. Ilmu-ilmu ini tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Ini sangat berharga sekali bagi saya. Karena itu kedepan, saya berharap PT Medco E&P Indonesia dan Kompas Gramedia, menggelar acara yang sama di Nunukan," tuturnya.

Lead of Public Affairs & Security PT Medco E&P Indonesia , Arfiandy Djafaar, merasa bersyukur dan bergembira karena pelatihan jurnalistik kali ini benar-benar berbobot dan bermanfaat buat para pelajar. "Mendengar cerita dari Pak Bechi (Pemred Tribun Kaltim) dan pengakuan Mufidah, saya merasa bersyukur dan bergembira karena target yang kita tentukan hampir 99 persen tercapai. Dengan demikian adik-adik kini sudah bisa memahami apa arti dunia migas buat pemerintahan daerah. Selain itu, palling tidak ilmu yang adik-adik peroleh bisa dibagi-bagikan kepada teman-teman lainnya yang ada di Tarakan dan Nunukan," ungkapnya.

Pada hari terakhir, para peserta yang jumlahnya mencapai 60 orang dan berasal dari SMAN 1, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2, SMA Hang Tuah, SMA Muhammadiyah, SMA Katolik Don Bosco, SMK Panguntaka, SMA Mulawarman, SMA Kristen Tarakan, SMAN 1 Nunukan, SMAN 1 Nunukan Selatan, SMKN 1 Nunukan, SMKN 1 Tarakan dan Madarsah Aliyah Negeri, dibagi menjadi 10 kelompok.

Mereka mendapat tugas meliput berita dengan berbagai macam topik. Diantaranya, membedah prestasi di SMKN2 Tarakan, membuat profil atau sosok guru, menulis feature tentang penjaga sekolah, membedah kantin kejujuran, mengintip bengkel SMKN2 Tarakan, mengamati kantin sekolah, membedah kegiatan esktrakulikuler, mengintip suasana di perpustakaan sekolah, mengamati kondisi bangku-bangku di ruang kelas dan lain-lain.

Sebelum mereka ke lapangan, para peserta mendapat pengarahan dari Achmad Subechi, berikut angle liputan serta materi wawancara. Semua tulisan harus dilengkapi dengan foto. "Bagaimana kalau enggak punya tustel Pak?" "Bisa pakai handphone berkamera," tutur Achmad Subechi.
Selepas dari lapangan, mereka masuk ke ruangan komputer SMKN 2 Tarakan.

Di ruangan itu ada sekitar 30 komputer yang telah disediakan. Hasil penulisan mereka lalu dievaluasi oleh Achmad Subechi. Selain itu, hasil karya mereka diupload ke www.pelajartarakan-nunukan.blogspot.com. "Ini adalah blog kalian yang sengaja kami bikinkan. Semua peserta mendapat pasword dan silakan mengirimkan semua tulisannya ke blog itu. Dengan demikian, kalian mempunyai wahana baru untuk berkomunikasi antara pelajar Tarakan dan Nunukan. Paling penting lagi, dengan menulis kalian akan menjadi cerdas, intelektualnya bertambah karena harus rajin membaca dan karya kalian akan bermanfaat untuk manusia lain," pesan Achmad Subechi.

Sebelum acara berakhir, Danny Andriano Oroh, salah satu peserta dari Tarakan, sempat mengajukan pertanyaan kepada Achmad Subechi mengenai kualitas dunia pendidikan di negeri ini. "Jadi yang paling penting adalah pemerataan pendidikan ya Pak...?" tanyanya.
Selain mendapatkan pelajaran jurnalistik dan pengetahuan tentang migas, mereka juga dapat suntikan dari Elie Mulyadi, motivator anak-anak. Elie memberikan inspirasi dan motivasi melalui cerita mengenai kehidupan, persahabatan dan cita-cita. Ia juga menyinggung apa benefit bagi seorang penulis.

"Karier di masa depan yang bisa digeluti oleh anak-anak adalah ketrampilan menulis. Dengan menulis kalian bisa mendapatkan kepuasan berkarya sekaligus penghasilan dan popularitas. Kharakteristik yang harus dimiliki seorang penulis adalah gigih, berani ditolak, kritis atau punya rasa ingin tahu yang besar dan jujur alias tidak plagiat," tutur wanita yang telah melahirkan karya-karyanya berupa buku-buku psikologi populer. (bec)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 1 komentar

SUDAH lama sekali aku ga pernah nulis di blog. Begitu mau nulis, eh malah bingung mau nulis apa. Jari-jari tangan mulai terasa kaku. Ide-ide pun tak kunjung datang. Meskipun sebenarnya ga perlu ide sih buat nulis sesuatu. Tapi kali ini aku coba untuk ngembaliin kebiasaan lamaku.
Tak pernah sekalipun terlintas di pikiranku untuk mengikuti kegiatan pelatihan penulisan. Maklum, aku tidak terlalu suka menulis. Karena menurutku, menulis itu membosankan dan hanya buang-buang waktu saja. Lagi pula, apa sih manfaatnya menjadi seorang penulis? Namun, apa yang kupikirkan itu ternyata salah. Menulis bukanlah suatu kegiatan yang membosankan. Justru dengan menulis kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa kita itu ada.

Di pagi yang dingin itu, terdengar suara bel berbunyi. Para siswa berlarian masuk ke kelas untuk menimba ilmu. Saat itu, aku dan teman-temanku lainnya berbaris di lapangan mengikuti pelajaran olahraga. Tiba-tiba, q dikejutkan oleh sebuah surat dispensasi dari kepala sekolah. “Wah.. surat apa ini?” tanyaku pada Rizky, peserta pelatihan penulisan perwakilan SMK N 2 Tarakan. Ternyata, ia pun tidak mengetahuinya. “Aku juga gak tau nih,” ujar Rizky.

Kami yang ditunjuk sebagai wakil dari SMK N 2 Tarakan pun bergegas menuju ke tempat acara itu diadakan. “Wah.. rame banget yang datang,” ujarku. Hal itu membuat kami berdua semakin kebingungan. Tak seorang pun yang memberitahu kami tentang acara ini. “Sebenarnya ini pelatihan apa sih? Kok kita yang dipilih. Ga ada kesepakatan lagi, uughht..” keluh ku. Dengan penuh penasaran, kami putuskan untuk masuk ke ruangan yang telah disediakan.

Setelah beberapa menit menunggu di dalam, acara pun di mulai. Acara yang diadakan oleh PT Medco E&P, bekerja sama dengan Kompas Gramedia dan Tribun Kaltim ini diikuti sekitar 60 pelajar dari 15 sekolah yang ada di Tarakan maupun Nunukan. Acara ini berlangsung selama tiga hari. Yang diadakan di gedung multimedia SMK N 2 Tarakan dari tanggal 24-26 Nopember 2009.

“Hoaaccchhh.... ngantuk,” kataku. Maklum, sambutan-sambutan yang disampaikan saat itu membuatku merasa bosan. “Cepatlah selesai, aku ngantuk tuh nah..” ucapku dalam hati. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya acara pelatihan penulisan ini pun resmi dibuka.
Di hari pertama, ternyata hanya dua siswa saja yang ditunjuk untuk mewakili sekolahku. Setelah berdiskusi, kami putuskan di hari pertama siswa yang mengikuti pelatihan ini diwakili oleh Marlina dan Ririk.

Di hari kedua, giliranku untuk mewakili sekolah dalam acara ini. Kali ini, tidak hanya pelajar dari Tarakan saja yang hadir. Para siswa dari Nunukan pun tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi. Tak lama kemudian acara pun dimulai.
Acara ini diisi dengan sesi mengenai jurnalistik dan fenomena Citizen Journalism, yang disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi. Sesi berikutnya, mengenal dunia foto, dengan menghadirkan pembicara dari Tribun Kaltim, M Wikan.

Berbagai macam pertanyaan pun dilontarkan para peserta. Hal inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh tim dari Tribun Kaltim. Aku yang saat itu sedang dalam kondisi yang kurang fit, mencoba untuk tetap mengikuti pelatihan ini. “Aduuhh.... lamanya juga ni selesai. Sakit semua badanku eh. Encok gak lama nih,” keluhku. Maklum, seluruh peserta harus duduk di lantai.

Acara kemudian dilanjutkan oleh Elie Mulyadi. Wanita yang melahirkan karya-karyanya berupa buku-buku psikologis ini sempat memberikan motivasi dan inspirasi melalui cerita mengenai persahabatan, kehidupan dan cita-cita. Ia pun menceritakan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang penulis. “Kharateristik yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah gigih, berani ditolak, jujur, dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat,” tuturnya.

Hari semakin sore, pelajaran hari ini pun akhirnya selesai. Kami pun bergegas pulang untuk istirahat. Karena keesokan harinya, kami akan dilatih untuk terjun ke lapangan.

Pada hari terakhir, seluruh peserta dikumpulkan dalam satu ruangan. Para peserta yang jumlahnya sekitar 60 orang dan berasal dari SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2, SMA Muhammadiyah, SMA Don Bosco, SMA Hang Tuah, SMA Paguntaka, SMA Mulawarman, SMA Tunas kasih, MAN, SMAN 1 Nunukan, dan SMKN 1 Nunukan, dibagi menjadi 10 kelompok.

Kami ditugaskan untuk meliput berita sesuai topik yang telah ditentukan oleh panitia. Sebelum turun kelapangan, para peserta diberi pengarahan dari Achmad Subechi. Waktu yang diberikan untuk melaksanakan wawancara pun cukup panjang.

Setelah selesai di lapangan, kami diarahkan untuk masuk ke ruang komputer. Di ruangan itu terdapat sekitar 30 komputer yang telah disediakan untuk mengetik hasil wawancara yang telah kami lakukan. Kemudian, tulisan yang telah kami buat akan dievaluasi oleh Achmad Subechi. Selain itu, Ia pun membuatkan sebuah blog. “Ini adalah blog kalian yang sengaja saya buat. Silahkan kirim semua tulisan kalian ke blog ini. Dengan demikian, kalian memiliki wahana baru untuk terus berkomunikasi antara pelajar tarakan dan Nunukan. Dengan menulis, kalian akan menjadi cerdas dan semoga karya kalian bermanfaat untuk orang lain,” pesan Achmad Subechi.

Mufidah, peserta dari SMAN 1 Nunukan mengaku terharu karena bisa mengikuti pelatihan ini. Ia pun berharap PT Medco E&P Indonesia dan Kompas Gramedia menggelar acara yang sama di Nunukan. Hal yang sama juga aku rasakan. Aku berharap kegiatan seperti ini terus diadakan. Tidak hanya di Tarakan dan Nunukan saja, melainkan seluruh Indonesia. Setelah acara pelatihan resmi berakhir. Seluruh peserta mengadakan foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Sedih? Yah, itulah yang kurasakan saat pelatihan ini berakhir. Hanya dengan waktu tiga hari saja, aku bisa mendapatkan pengalaman baru yang tak pernah aku bayangkan. Selain itu, dari acara ini aku pun mendapatkan sahabat-sahabat baru. Baik yang berasal dari Tarakan maupun Nunukan. Rasa letih, capek, dan lesu yang kurasakan selama mengikuti kegiatan ini tak sebanding dengan ilmu yang ku dapatkan. Namun, dengan berakhirnya acara ini, q merasakan ada sesuatu yang hilang. Kebersamaan kita terasa terlalu cepat. Kalau disuruh milih, mungkin aku akan memilih untuk terus mengikuti pelatihan ini. Tapi aku sadar, kita juga masih memiliki tugas yang harus kita selesaikan. Semoga dengan diadakannya acara ini, kita bisa melahirkan karya-karya kita dan membuktikan kalau kita ada. Terima kasih ku ucapkan untuk PT Medco E&P dan Kompas Gramedia yang telah mengadakan acara seperti ini. Untuk teman-teman baru ku, AKU SENANG BISA KENAL DENGAN KALIAN.(rifqi)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN Kamis, 26 November 2009 0 komentar


Sekolah Menengah Atas Negeri Satu Tarakan adalah salah satu sekolah favorite di Kota Tarakan. Sekolah yang terletak di Jalan Ki Hajar Dewantara ini sudah tidak asing lagi di telinga. Mendapat predikat sekolah unggulan membuat pihak SMA Negeri 1 Tarakan ini terus berbenah.

Mulai tahun pelajaran 2007/2008 SMA Negeri 1 Tarakan melaksanakan program RSBI dan diharapkan pada tahun 2011 dapat mencapai SBI sesuai target nasional. Seiring dengan upaya untuk mencapai SBI, SMA Negeri 1 Tarakan pada tahun 2008/2009 telah bekerja maksimal untuk perbaikan sistem managemen yang pada akhirnya pada 15 desember 2008 SMA Negeri 1 Tarakan berhasil memperoleh sertifikat iso 9001:2000 yang dikeluarkan PT TUV Nord Indonesia.

Untuk menuju sekolah bertaraf internasional salah satu hal yang harus dipenuhi yaitu adanya kemitraan dengan sekolah unggul dari negara OEDC ataupun negara industri maju lainnya. Saat ini SMA Negeri 1 Tarakan telah melaksanakan kerja sama dengan sekolah unggulan di dalam dan luar negeri (Singapore dan China).

Selain aspek managemen dan kerjasama dengan sekolah unggulan, hal terpenting bagi sekolah yang menuju SBI adalah menjadikan sekolah berbasis ITC (information, technologies, and communication). SMA Negeri 1 Tarakan berupaya menjadikan sekolah berbasis ITC sejak tahun 2005. Salah satu perwujudannya dengan mengeluarkan program berbasis ITC yaitu, Smansata Community Service (scs), Paket Aplikasi Sekolah (pas), e-Documen, e-Learning, dan e-Personal. Semua paket ITC tersebut disusun di dalam sebuah website SMAN 1 Tarakan.

Sekolah yang juga sering disebut SMANSATA ini mempunyai sebuah website sendiri yang mandiri yaitu sman1-trk.sch.id. Dengan memiliki server sendiri yang memudahkan dalam pengembangan website. Website SMA Negeri 1 Tarakan ini murni buatan siswa/siswi SMA Negeri 1 Tarakan. Tidak hanya sekedar teory tetapi siswa/siswi SMA Negeri 1 Tarakan telah membuktikan kemampuan mereka dalam pembuatan website sendiri. Siswa/siswi pengurus website ini tergabung dalam team website sman 1 tarakan.

Team website di sman1 tarakan ini memiliki sebuah organisasi yaitu Website Revolusionary Community piARCY. Didirikan sejak tahun 2009 yang dipelopory oleh ani pissa. Team website SMAN 1 Tarakan ini telah memperoleh berbagai prestasi yang membanggakan yaitu masuk dalam salah satu website terbaik tingkat nasional. Juara pertama, kedua dan ketiga sekaligus juara umum dalam ajang it kontes yang diadakan knpi. Website SMA Negeri 1 Tarakan ini juga memperolah pujian dari pihak Direktorat Jakarta.

“Website SMA Negeri 1 Tarakan merupan satu-satunya website sekolah dengan managemen kelas internasional di Republik ini”, ungkap rahmat yang berasal dari Direktorat Jakarta yang bertugas sebagai peninjau sekolah berstandar internasional. Sdr. Rahmat juga memberikan aplaus kepada team website SMA Negeri 1 Tarakan karena pengurus serta pembuatannya ditangani oleh siswa.

Website sekolah yang pernah masuk 16 besar lomba design web tingkat nasional ini memiliki struktur pengurus. Website ini juga memiliki program kerja serta pencapaian tahunan. Taem Website ini memilki struktur yaitu divisi web master, web designer, web content indonesia dan english, web journalist, web photographer dan web publisher. Di setiap divisi dari website ini mempunyai program kerja tahunan yang harus dilaksanakan.

Prestasi website SMA Negeri 1 Tarakan dibuktikan dengan ditandatanganinya kerjasama antara SMA Bekasi untuk perwakilan Jawa, SMA Pinrang untuk perwakilan Sulawesi. Penandatanganan ini dilaksankan mengingat sudah majunya itc di SMA Negeri 1 Tarakan. Kedepan website sma negeri 1 Tarakan tidak hanya mendulang prestasi nasional tetapi juga memperoleh prestasi di tingkat internasional.(oki)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 4 komentar



Free school is very good, especially for children who are not able to. I Achmad Subechi, could not agree with the existence of free schools. Because I think a great nation is a nation in which there are smart people in science. The government already has a very good program, live how teachers teach and students who are learning or know will occupy their positions respectively.

Thank you for your attention...

Author by.DANNY ANDRIANO OROH
(dannyandrianoo@gmail.com)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 0 komentar



“MENJADI seorang guru bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Namun menjadi seorang guru matematika adalah suatu kebanggaan bagi saya karena itu merupakan impian saya sejak kecil,” ujar Ny. Nissa.

Guru matematika yang saat ini mengajar di SMKN 2 Tarakan, merupakan satu dari sekian banyak guru yang punya segudang pengalaman. Mengawali karirnya sebagai guru sejak tahun 1997 hingga sekarang.

Kelahiran Surabaya, 28 Januari 1969 ini memulai pendidikannya dari TK hingga perguruan tinggi di Kota Surabaya. Memilih jurusan matematika di Universitas Muhamadiyah Surabaya, dengan alasan ia sangat menyukai matematika. Mengapa? Matemtika dianggap induk dari semua ilmu pengetahuan, baik Bahasa Indonesia, biologi, fisika dan yang lainnya.

Ibu dari seorang anak ini berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dengan penghasilan per bulan kurang lebih Rp 2 juta. Menurutnya penghasilan sebesar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Selama dua belas tahun mengajar, banyak sekali suka maupun duka yang dialaminya. “Dalam proses mengajar pun tak sedikit siswa nakal maupun yang tidak menyukai matematika saya temukan. Namun, hal itu menjadi penyemangat bagi saya untuk terus memotivasi dan mengajarkan ilmu yang saya miliki buat murid-murid saya,” lanjutnya.

Dalam proses mengajar, ia menerapkan metode belajar yang santai dengan memaksimalkan fasilitas yang disediakan oleh negara, sehingga para pelajar menjadi nyaman dan mengerti apa yang diajarkannya.

Hal yang sama juga diungkapkan Sugeng, guru matematika di SMKN 2 Tarakan. Pria yang pernah mengajar di SMP dan SMA Mulawarman ini mengatakan, dalam mengajar ia menggunakan metode pembelajaran yang tujuannya agar para siswa bisa lebih memahami tentang pentingnya pelajaran matematika.

“Metode yang saya gunakan bermacam-macam, ya ada diskusi, ya ada penugasan kelompok, ceramah, terkadang ada latihan terbimbing. Intinya bermacam-macam lah yang penting tujuan saya tercapai,” ujarnya.

Pria berlogat Jawa ini menjelaskan, matematika bukanlah sesuatu pelajaran yang sulit. “Seperti yang kita bayangkan, bahwa metematika dapat dijadikan sebagai penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari.”

Kelahiran Klaten, 11 Desember 1978 itu lebih menggunakan metode belajar yang bersifat interaktif. Misalnya, menggunakan tips-tips menarik yang dapat membuat muridnya terkesan seperti humor, dan sulap matematika. Tujuannya agar muridnya tidaklah bosan. “Namun, tetap saja ada murid-murid yang tidak memperhatikan pelajaran matematika ini,” tutur Sugeng.

Ada suka dan duka yang dialami Sugeng dalam menghadapi murid-muridnya. “Membuat anak murid saya untuk senang dengan matematika itu susahnya setengah mati. Untuk merubah imej bahwa matematika mudah itu tidak segampang pemikiran saya. Butuh perjuangan yang melelahkan. Sampai sekarang saya belum berhasil mengubah imej anak bahwa matematika itu menyenangkan. Dan sukanya jika saya melihat murid saya sukses dan berhasil.”

Penghasilan pokok yang ia peroleh saat ini sekitar Rp 1.400.000,00. Baginya pendapatan ini sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Saat ini ia hanya memakai bahan ajar yang bisa membuat muridnya menyukai pelajaran matematika.

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 0 komentar

SMK Negeri 2 Tarakan merupakan salah satu sekolah yang berprestasi di Kota Tarakan. Sekolah terletak di Jalan Aki Balak, awalnya berdiri tahun 1974. Dulu dikenal dengan nama STM Persiapan Negeri Tarakan. Selanjutnya sejak 20 November 1984 berubah menjadi STM Negeri Tarakan. Sekolah yang terdiri dari 1.170 murid dan 140 guru, memiliki segudang prestasi dibidang non akademik maupun akademik.

PRESTASI itu diantaranya pencak silat, kempo, sepak bola, basket, dan futsal. Sedangkan dalam bidang akademik terdiri atas olimpiade-olimipiade tingkat kotamadya maupun provinsi. Prestasi–prestasi lainnya seperti lomba web design, speech contest dan lain-lain .

Tahun 2009, SMKN 2 Tarakan, pernah meraih juara pertama kejuaraan Rektor Cup se-kota Tarakan, sekaligus merebut kembali piala bergilir yang pernah diraih sekolah lain. Sekolah yang kini sedang membangun gedung baru, juga menduduki juara tiga Turnamen Basket tingkat kota.

Prestasi yang membanggakan adalah dikirimnya seorang pelajar SMKN2 Tarakan ke Singapura, untuk mengikuti turnamen catur tingkat internasional. “Saya lupa siapa nama atlet catur kita yang telah kami kirim ke Singapura. Maklum, siswa itu sudah lulus sejak beberapa tahun lalu,” kata Ny Eko Wihandayani, staf tata usaha SMKN2 Tarakan.

Sedangkan di bidang seni, ekstrakurikuler teater sekolah ini juga memberi sumbangsih prestasi. Belum lagi tim barongsai, pernah meraih juara pertama lomba barongsai tingkat internasional. SMK Negeri 2 Tarakan, ternyata mampu menyeimbangkan prestasinya, tidak hanya unggul dibidang non akademik, melainkan juga unggul dalam bidang akademik. Hal itu terlihat dari berbagai macam jenis lomba yang pernah diikuti. Misalnya, lomba cerdas cermat, tercatat sebagai juara tiga. Juara harapan satu dan dua pada lomba IT Contest yang diadakan oleh KNPI Tarakan. Salah satu hasil karya yang menjadi kebanggaan SMK Negeri 2 Tarakan adalah dengan diluncurkan 100 unit netbook merek Advance yang merupakan hasil rakitan para pelajar di sekolah ini.

Apa resepnya? Ternyata ada sistem poin yang diterapkan, untuk memancing para siswa – siswinya agar dapat disiplin sekaligus berprestasi. “Setiap siswa diberikan 100 poin, sebagai umpan agar terus disiplin dan berprestasi. Apabila melakukan suatu pelanggaran, maka poin itu berkurang sesuai pelanggaran yang dilakukan siswa. Jika poin tersebut habis maka siswa harus dikeluarkan dari sekolah. Sebaliknya, jika berprestasi maka pointnya juga akan bertambah,” ujar Ny Eko Wihandayani, salah satu staf tata usaha.

Resep dari Ny Eko, diamini Mukhlis, siswa SMKN2 Tarakan. Bahkan, ia sedikit memberikan tips atau bocoran untuk meraih kesuksesan. “Kiat- kiat untuk dapat berprestasi, kita harus rajin berlatih dan tidak mudah putus asa,” tutur pria yang saat ini tergabung dalam tim unggulan sepak bola SMKN 2 Tarakan.

Salah seorang guru di sekolah ini juga berharap SMKN 2, dapat terus berprestasi melalui jalur–jalur ekstrakurikuler masing–masing dan terus berlatih agar dapat mempertahankan prestasi yang pernah didulangnya. (Kelompok 1/Ketua: Mufidah, anggota: Novita, Rizky Putera, Fajrin, Novitasari)

Diposting oleh JURNALIS PELAJAR TARAKAN-NUNUKAN 4 komentar

Subscribe here

Visitor

comment


ShoutMix chat widget

Best Momment